Tintamerah.info-Kab.Tangerang||Semangat gotong royong dan kemandirian kembali ditunjukkan oleh warga Kelurahan Sukatani, Kecamatan Rajeg, Kabupaten Tangerang. Secara swadaya, masyarakat mengambil tindakan nyata melakukan normalisasi Sungai Cidurian dengan mengeruk sedimentasi dan membuka kembali aliran air yang selama ini mengalami pendangkalan serta penyempitan.
Langkah konkret ini diambil sebagai respons cepat atas keluhan warga yang selama bertahun-tahun harus berhadapan dengan ancaman banjir setiap musim hujan. Pendangkalan sungai dinilai menjadi pemicu utama berkurangnya daya tampung air, sehingga luapannya kerap merendam permukiman warga.
Ketua RW 016 Perumahan Kutabumi 7 Astina, Karman, menjelaskan bahwa aksi normalisasi ini merupakan bentuk kepedulian lingkungan sekaligus jawaban atas aspirasi warga yang resah akibat luapan Sungai Cidurian.

“Normalisasi sungai ini kami lakukan murni secara swadaya masyarakat. Ini adalah jawaban atas keluhan warga Kampung Snen dan sekitarnya yang selalu terdampak banjir setiap musim hujan. Alhamdulillah, titik-titik rawan banjir saat ini sudah dikeruk sehingga aliran air menjadi lebih lancar. Kami berharap upaya ini efektif mengurangi risiko banjir ke depan,” ungkap Karman.
Karman juga mengingatkan kembali memori kelam banjir besar yang melanda wilayah Sukatani pada Minggu, 8 Maret 2026 lalu. Kala itu, hujan deras yang mengguyur sejak malam hingga dini hari menyebabkan Sungai Cidurian meluap hebat. Banjir merendam sejumlah titik, mulai dari Perumahan Kutabumi 7 Astina, Kampung Snen, Kampung Gandaria, hingga Kampung Batu Nunggul. Ketinggian air yang mencapai sepinggang orang dewasa sempat melumpuhkan aktivitas total dan memaksa warga mengungsi serta menyelamatkan barang-barang berharga.

“Pengalaman pahit itu menjadi pengingat bagi kami bahwa persoalan banjir tidak bisa diselesaikan hanya dengan berpangku tangan menunggu bantuan pemerintah. Atas dasar itulah, warga berinisiatif menghimpun tenaga dan sumber daya secara mandiri demi keselamatan bersama,” tambah Karman.
Apresiasi tinggi juga datang dari warga setempat. AS, salah seorang warga yang kerap terdampak banjir, mengaku bangga dengan kekompakan lingkungan tempat tinggalnya. Menurutnya, aksi ini menjadi contoh nyata bagaimana masyarakat bisa bergerak mandiri tanpa membebani anggaran negara.
“Ini adalah aksi nyata yang langsung menyentuh kepentingan orang banyak tanpa menyentuh anggaran pemerintah (APBD). Gerakan seperti ini patut didukung dan diapresiasi. Kami berharap semangat kebersamaan ini terus terjaga agar kampung kami aman dari banjir,” tutur AS.
Melalui aksi ini, warga berharap normalisasi Sungai Cidurian tidak hanya berdampak jangka pendek dalam memperlancar arus air, melainkan menjadi pemantik gerakan berkelanjutan untuk menjaga kebersihan dan kelestarian sungai. Dengan kolaborasi kuat antarmasyarakat, risiko banjir di wilayah Sukatani diharapkan dapat ditekan secara signifikan pada musim penghujan mendatang.







