DED 90 Juta Dinilai Mubazir : Jalan 1 Miliar Amblas di Pinggir Kali, Pengawasan PUPR Mandul?
Tintamerah-KAB.TANGERANG||Proyek rehabilitasi jalan beton di Kampung Tangkele, Desa Solear, kini menjadi monumen buruknya perencanaan infrastruktur di Kabupaten Tangerang.
Jalan senilai Rp 1 Miliar yang berdiri tepat di bibir kali irigasi selebar 12 meter tersebut amblas dalam waktu singkat, memicu tudingan miring terhadap kompetensi Bidang Perencanaan dan Bidang Pengawasan Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang.
Publik mempertanyakan bagaimana dokumen Detailed Engineering Design (DED) dengan anggaran survei mencapai Rp 90 Juta bisa meloloskan desain jalan tanpa memperhitungkan karakter tanah yang labil dan risiko erosi di pinggir kali besar.
Perencanaan “Lumpuh”, Pengawasan “Buta”
Kondisi amblasnya jalan dengan kemiringan hingga 30 cm ini dianggap bukan sekadar faktor alam, melainkan kelalaian teknis yang disengaja, seharusnya, dengan lebar kali irigasi mencapai 12 meter,
Bidang Perencanaan wajib mewajibkan konstruksi penopang (turap/spal) yang jauh lebih kokoh secara geoteknik.
“Ini bukan soal alam, ini soal otak di balik perencanaan. Bagaimana mungkin anggaran survei puluhan juta rupiah gagal mendeteksi tanah labil di pinggir irigasi selebar itu? Ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan rendahnya kompetensi teknis di internal Dinas PUPR,” tegas Ketua umum LSM PELOPOR, Syafrudin, 15/2/2026
Kontraktor Jadi “Bemper” Kegagalan Dinas
Meski saat ini perbaikan sedang dikebut oleh pelaksana kegiatan, Irman, publik melihat adanya ketimpangan tanggung jawab. Kontraktor terpaksa melakukan perbaikan volume besar (panjang 34 meter, lebar 4,5 meter, tebal 20 centi meter di masa pemeliharaan tanpa dukungan anggaran tambahan dari dinas.
Irman menyebut bahwa amblasnya jalan dipicu oleh hanyutnya struktur penunjang yang dikerjakan pihak lain, namun, hal ini justru mempertegas lemahnya sinkronisasi dan manajemen proyek oleh Dinas Bina Marga.
Mengapa dua proyek berbeda waktu (jalan dan penunjang) tidak diintegrasikan dalam satu perencanaan matang?
“Kami harus turun tangan melakukan perbaikan mandiri demi masyarakat, karena jalur ini vital menuju Serang dan Kopo, meski anggaran dari Bina Marga untuk perbaikan ini nol rupiah, kami komitmen menyelesaikan di hari terakhir ini agar warga bisa melintas menjelang puasa,” ungkap Irman.
Desakan Audit Investigatif
Kegagalan konstruksi ini menjadi preseden buruk bagi kredibilitas DBMSDA Kabupaten Tangerang, warga menuntut agar Inspektorat Kabupaten Tangerang segera turun tangan melakukan audit terhadap:
Produk DED senilai 90 Juta, apakah survei tanah benar-benar dilakukan atau hanya di atas meja?
Kinerja Pengawas Lapangan
Mengapa konstruksi yang berisiko tinggi dibiarkan selesai tanpa penguatan struktur yang memadai sejak awal?
“Jangan sampai uang rakyat satu miliar rupiah terus-terusan jadi tumbal perencanaan yang amatir, jika Bidang perencanaan tidak mampu menghitung risiko tanah di pinggir irigasi, maka integritas dan kompetensi pejabat di dalamnya patut dievaluasi total,” tutup ketua umum LSM PELOPOR Syafrudin







