Tintamerah.info-KAB. TANGERANG|| Kebakaran hebat yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, belum juga berhasil dipadamkan hingga Rabu (1/7/2026).
Kobaran api dilaporkan telah meluas hingga mencakup area sekitar 15 hektare. Akibat asap pekat yang ditimbulkan, sebanyak 154 warga di Desa Gintung dan Buaran Jati, Kecamatan Sukadiri, dilaporkan terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Berdasarkan pantauan di lapangan, titik api tersebar di setiap sisi tumpukan sampah. Selain faktor cuaca ekstrem, tata kelola sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang kini menjadi sorotan warga. Volume truk sampah yang masuk setiap hari dinilai tidak sebanding dengan kapasitas penanganan, sehingga terjadi penumpukan yang memperparah risiko kebakaran.
Salah seorang warga yang tinggal di dekat lokasi, KR, mengeluhkan kondisi udara yang kian memburuk.
“Dari kemarin sampai hari ini api justru makin melebar dan belum bisa dikendalikan. Kepulan asapnya membuat sesak napas, belum lagi hawa panas yang ditimbulkan,” ujarnya kepada awak media.
Mengingat sulitnya medan darat, petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) yang kewalahan langsung berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta bantuan pemadaman jalur udara.
Kepala BNPB, Letjen TNI Dr. Suharyanto, mengonfirmasi bahwa kondisi angin kencang dan cuaca panas mempercepat penyebaran api di timbunan sampah setinggi belasan meter tersebut.
“Hingga saat ini tim gabungan masih terus berusaha memadamkan api yang diperkirakan sudah membakar area seluas 15 hektare. Untuk mempercepat penanganan, BNPB mengerahkan dua helikopter water bombing jenis MI-8AMT yang masing-masing berkapasitas 4.000 liter air. Jika diperlukan, kami juga akan melakukan operasi modifikasi cuaca,” tegas Suharyanto.
Dampak Kesehatan Warga Mulai Mengkhawatirkan
Di sisi lain, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang bergerak cepat menangani dampak kesehatan warga. Kepala Dinkes Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyebutkan mayoritas warga yang menjadi korban asap adalah balita, ibu hamil, dan kelompok rentan.
“Bahkan hari ini ada satu kasus ibu hamil yang terpaksa kami rujuk ke rumah sakit karena mengalami gangguan pernapasan serius akibat paparan asap,” kata Hendra saat meninjau lokasi.
Untuk mengantisipasi membeludaknya pasien, Dinkes telah mendirikan empat posko kesehatan di sekitar TPA Jatiwaringin. Sebanyak 25 tenaga medis disiagakan secara bergantian selama 24 jam penuh untuk melayani masyarakat lokal maupun warga yang berada di pengungsian.






